Sabtu, 12 April 2014

MENGABDI DALAM SEGALA HAL



MENGABDI DALAM SEGALA HAL

(Lukas 17:7-10; Minggu 20 Pebruari 2011)
Yesus membuat gambaran tentang loyalitas seorang hamba terhadap majikan sebagai model perbandingan untuk memudahkan manusia memahami tugasnya sebagai hamba Allah. Seorang hamba terikat untuk menyelesaikan semua tugas yang diembankan kepadanya. Keterikatan seorang hamba boleh jadi karena latar belakangnya sebagai budak belian, atau ada kontrak yang harus dipatuhi di antara majikan dan hamba. Jika keterikatan itu berakhir, maka seorang hamba dinyatakan merdeka dan dapat meninggalkan majikannya. Hubungan hamba dan majikan dalam versi masyarakat adalah dua pihak yang berbeda sampai selamanya. Hasil yang dikerjakan seorang hamba adalah untuk kepentingan, kenikmatan, kesenangan, kesejahteraan, keamanan, pokoknya terarah kepada sang majikan. Ada hubungan struktural atas bawah, dan senantiasa ada jarak yang mengantarai hamba dan majikan. Majikan itu sendirilah yang memberikan nilai terhadap kualitas pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Pemberian nilai dan penghargaan terjadi sesudah tugas majikan dikerjakan dengan benar dan sempurna.
Jika orang beriman digambarkan sebagai hamba yang mengabdi kepada Allah, maka ia mengabdi seumur hidup dengan kontrak yang dibuat sepihak oleh Allah. Seorang abdi Allah berbakti dengan segenap hati, sekuat tenaga, menunaikan semua tugas dengan benar, sempurna dan tuntas. Orang yang berbakti kepada Allah berubah menjadi warga kerajaan sorga, sebagai anak yang mewarisi segala milik Sang Majikan. Seorang abdi Allah diperlakukan sebagai seorang anak. Hamba Allah diijinkan untuk memahami semua kehendak Sang Majikan yang bertindak sebagai Bapa. Bagi Yesus, pengabdian seorang hamba adalah membaktikan diri kepada Majikan Imajiner, yakni Allah. Tidak ada pertemuan tatap muka, juga tidak ada perintah harian, hanya ada firman yang tertulis dan usianya sudah ribuan tahun. Firman seperti itu menjadi komando bagi seorang abdi Allah.
Proses mengabdi kepada Allah dengan cara menjadi pelaku firman, akan membuat hamba yang bersangkutan dibebaskan dari semua jarak yang memisahkan Allah dan manusia. Dengan melakukan firman Allah manusia menjadi hamba yang terhubung secara langsung dengan Allah, sumber dan pemilik firman itu sendiri. Inilah pengabdian yang sesungguhnya. Mengabdi untuk merealisasikan firman Allah. Ketika abdi Allah mengerjakan firman-firman dalam kerajaan sorga,maka semua hasil menjadi milik pelakunya, milik hamba yang berbakti. Allah merealisasikan firmanNya bagi kepentingan pendoa, yakni sang abdi Allah. Bukan untuk keselamatan, keamanan, kesejahteraan, kenikmatan, dan keuntungan Sang Majikan (yakni Allah), tetapi totalitas ibadah yang dilakukan bermanfaat dalam segala hal bagi Abdi Allah (1 Timotius 4:8).
Jika hasil pengabdian kepada sesama manusia adalah demi kepentingan majikan, maka mengabdi dalam segala hal kepada Allah hasilnya tertuju kepada Sang Abdi Allah. Yesus membandingkandua model pengabdian sejak abad pertama. Lebih sederhana, dengan mempergunakan waktu, perhatian dan energi untuk melakukan semua kehendak Allah yang terkandung di dalam firmanNya, maka hal itu akan mendatangkan segala karunia sebagaimana termaktub dalam firmanNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar