Minggu, 30 Desember 2012

Teologia kontemporer





TELAAH KRITIS TERHADAP TEOLOGI NEO-ORTODOKS KARL BARTH


                  Teologi neo-ortodoks adalah teologi yang muncul Karena adanya suatu keinginan untuk memperbaharui teologi ortodoks. Neo-ortodoksi menggambarkan adanya kontras hubungan ilahi-manusia Karena mengungkapkan bahwa seseorang dapat mengalami hubungan dengan Allah melalui satu situasi kritis. “Penekanan noe-ortodoksi adalah pada jarak antara Allah dan manusia, kekinian dan keabadian, dua hal kelihatan saling bertentangan tapi tak bisa dipisahkan.”1 Karl Barth adalah pemimpin neo-ortodoks dalam menentang liberalisme abad ke-19. Pengajaran tentang kebaikan manusia dan optimisme tentang kemajuan, yang ia pelajari dari liberalisme, menjadi sesuatu yang tidak berarti ketika berlangsung perang dunia I. Karl Barth adalah seorang tokoh yang ingin memperbaharui paham yang ada dalam liberalisme. Ia ingin mengembalikan paham yang menyimpang dari Alkitab kembali lagi kepada Alkitab. Karl Barth adalah seorang pengajar yang pernah menjadi dosen di berbagai teologia. Dalam pengajarannya, ia mengajar tentang dogmatika dan Perjanjian Baru. Situasi sejarah dalam pengaruh teologi liberal mendorong manusia berusaha mengiasai allah untuk kepentingan diri sendiri, tetapi mendatangkan krisis karena hukuman dan pengadilan Allah. Sangat perlu bagi setiap orang percaya untuk mengetahui kebenaran yang diberikan oleh Alkitab. Banyak teologi sekarang ini yang tidak berdasr kepada otoritas Alkitab, tetapi manusia membuat sesuatu itu dengan menggunakan akal pikiran sendiri tetapi tidak lagi berdasar pada Alkitab. Alkitab hanyalah sebagai pelengkap dari ide pemikiran yang diungkapkan. Alkitab hanyalah sebagai pendukung dari ide yang diungkapkan oleh teologi Karl Barth.

Bibliologi Karl Barth
                  Pandangan Karl Barth sangat berbeda dengan paham yang dimiliki oleh pandangan tradisional ortodoks dan pandangan injili yang sekarang. Sebelum Karl Barth ada banyak pandangan yang timbul mengenai otoritas Alkitab. Namun dalam semuanya itu, belum mengakui Alkitab sebagai otoritas tertinggi atas segalanya. Bart mencoba ingin kembali kepada alkitab, yang dalam liberalisme disingkirkan. Ia terdorong untuk kembali pada pandangan tradisional ortodoksi tentang Alkitab. Namun ia tidak menghargai Alkitab sebagai firman Allah Karena ia menggunakan akal pikirannya untuk mengerti Alkitab. Pandangan ortodoks yang mengakui Alkitab sebagai firman Allah tidak diakui dan dianggap sebagai hal yang keliru. “Menurutnya, firman Allah merupakan ‘peristiwa’, sesuatu yang dinamis, bukan penyataan yang statis. Firman Allah adalah sesuatu yang terjadi pada kita, ketika Allah berbicara melalui Yesus Kristus.”2 Artinya adalah bahwa Karl Barth tidak menerima sepenuhnya Alkitab sebagai firman Allah. Ia menolak ketaksalahan atau ketakkeliruan Alkitab. Menurut Barth, Alkitab bukanlah firman Allah secara keseluruhan, tetapi para penulis hanya menuliskan pengalaman mereka dan menghubungkannya dengan firman Allah. Dengan membaca pengalaman para penulis tersebut, diharapkan seseorang juga dapat mengalami penyataan Allah, dan pada saat itulah Alkitab menjadi firman Allah pada orang itu. Menurut Barth, Alkitab menjadi firman Allah sejauh Allah berbicara melaluinya. Alkitab bukanlah Firman Allah sebelum menjadi nyata atau sebelum berbicara dalam situasi eksistensial. 
Teologi proper Barth
                  Barth dipengaruhi oleh Yohanes Kalvin yang menekankan kedaulatan Allah yang transenden, tapi berbeda dalam berbicara tentang pilihan. Kalvin berbicara mengenai pilihan manusia sedangkan Barth mengenai pilihan Kristus. Yesus Kristus adalah sebagai subjek yang memilih sekaligus sebagai objek yang dipilih. “Allah, di dalam anugrahnya memilih Kristus, dan melalui Dia manusia dipilih dan didamaikan dengan Allah.”3 Dari pemahaman ini dapat dilihat dan dimengerti bahwa pandangan Karl Barth tidak mengungkapkan keAllahan Yesus Kristus. Ia membedakan Allah dengan Kristus, sedangkan Allah sendiri adalah Yesus Kristus. Dalam hal ini, Tidak mengakui tritunggal.
                  Bagi Barth sendiri, Allah itu adalah Allah yang transenden yang mutlak. Allah tidak bisa diidentifikasikan dengan barang apapundi dunia ini. Artinya adalah bahwa Barth berpendapat Allah itu bukan seorang pribadi yang dapat dijelaskan. Menurut Barth seseorang bisa berbicara kepada Dia tetapi tidak bisa berbicara tentang Dia, karena menurut Barth Allah itu absolut, berdaulat dan tak terbatas.
      Dalam bukunya, Harvie M. Conn mengatakan bahwa: “sama seperti metode dialektika Barth itu, maka tekanannya ialah bahwa Allah adalah” yang mutlak berbeda” menjadikan Allah tidak dapat dijelaskan. Karena Allah bukan objek dalam waktu dan ruang, karena Allah adalah “Yang tidak dikenal” (bahasa Kiergaard), karena “Yang tidak dapat diteliti … Yang tersembunyi itu adalah sifat Dia yang disebut Allah”, maka manusia tidak dapat mengenal Dia secara langsung.4

                  Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa konsep Karl Barth tentang Allah ialah bahwa Allah tidak bisa dipahami dan dimengerti oleh manusia. Allah itu sangat jauh dari manusia sehingga manusia tidak dapat mengidentifikasi Allah dengan benar.
Bagi Barth, Allah itu tidak bisa dipahami dan tidak imanen. Hanya transenden.
Kristologi Barth
Dalam pemahaman teologi Barth ditekankan pada sentralisasi Kristus. Kristus menjadi titik tolak dan pusat teologia. Kristus adalah Allah yang dipilih dan sekaligus manusia yang terpilih. Pemilihan Kristus berarti pemilihan dari komunitas. Ia mengajarkan pemilihan ganda, bahwa Allah dan Kristus telah menjadikan diri mereka terkutuk karena dosa manusia.Mrnutut Barth bahwa seseorang diselamatkan hanya karena pilihan Allah. Bagi Barth, Yesus merendahkan diri sebagai hamba hanyalah sebagai symbol kerendahan hati Yesus. “Barth menolak mengakui pandangan tradisional tentang dua macam keadaan Kristus – perendahan dan pemuliaan Kristus yang berjalan secara kronologis”5


1Diktad STTII
        3Diktad STTII, 15.
        4Harvie M. Conn. Teologia Kontemporer (Malang: Literatur SAAT, 2002), 29.
                        5Harvie M. Conn. Teologia Kontemporer (Malang: Literatur SAAT, 2002), 35.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar